Probali.id, DENPASAR – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Bali dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Denpasar mengimbau umat Muslim di Pulau Dewata untuk melaksanakan ibadah dari rumah selama pelaksanaan Hari Raya Nyepi Tahun Çaka 1948.
Langkah ini diambil guna menghormati umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, mengingat jadwalnya berdekatan dengan rangkaian Idul Fitri 1447 Hijriah.
Ketua PWNU Bali, Abdul Azis, mengajak umat Islam untuk melaksanakan salat Tarawih maupun malam takbiran yang diperkirakan jatuh pada 19 Maret 2026 bersama keluarga di rumah masing-masing. Menurutnya, hal tersebut tidak akan mengurangi nilai pahala maupun kekhusyukan ibadah, melainkan menjadi wujud nyata penghormatan terhadap kerukunan antarumat beragama di Bali.
”Melaksanakan takbiran maupun sholat tarawih di rumah berjamaah dengan keluarga saya kira tidak mengurangi kekhusyukan ibadah selama Ramadan. Kita menghormati saudara kita umat Hindu,” ujar Abdul Azis dalam keterangannya, Jumat (13/3).
Senada dengan PWNU, Muhammadiyah Kota Denpasar juga mengeluarkan surat edaran resmi yang ditandatangani oleh Ketua Tatang Wisnu Wardhana. Dalam edaran tersebut, warga Muhammadiyah diminta menjaga semangat kekeluargaan dengan tidak menggunakan pengeras suara saat malam takbiran yang bertepatan dengan waktu penyepian.
Terkait pelaksanaan salat Idulfitri pada 20 Maret 2026, pihak Muhammadiyah mengarahkan jemaah untuk baru berangkat menuju lokasi salat setelah pukul 06.00 WITA. Waktu tersebut ditetapkan menyesuaikan dengan berakhirnya masa Catur Brata Penyepian agar mobilitas jemaah tidak berbenturan dengan aturan adat setempat.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Bali bersama FKUB, MUI, dan PHDI Bali telah menggelar rapat koordinasi di Jayasabha pada Rabu (11/3) untuk menyusun kesepakatan teknis. Pertemuan tersebut mengacu pada Surat Edaran Gubernur Bali mengenai hari libur nasional dan cuti bersama tahun 2026 untuk menjamin ketertiban masyarakat.
Melalui seruan bersama ini, para tokoh lintas agama berharap keharmonisan di Bali tetap terjaga meski dua hari raya besar jatuh dalam waktu yang hampir bersamaan. Panitia Hari Besar Islam (PHBI) pun diminta terus berkoordinasi dengan pihak keamanan dan desa adat guna memastikan seluruh rangkaian ibadah berjalan tertib. (*)



