spot_img

Cok Ace Terima De Gadjah – PAS di Puri Saren, Mantan Wagub Bali Itu Titip Pesan Jaga Bali

Gianyar, Probali.id – Mantan Wakil Gubenrur Bali periode 2018-2023, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati alias Cok Ace menerima kehadiran Pasangan Calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Nomor Urut 01, Made Muliawan Arya (De Gadjah) dan Putu Agus Suradnyana (Mulia-PAS).

Pasangan Mulia PAS itu diterima di Puri Saren Agung Ubud, Kabupaten Gianyar, pada Jumat, 4 Oktober 2024. Cok Ace menyambut calon Gubernur bali itu bersama kedua saudaranya yakni Tjokorda Gde Putra Sukawati, kakak Cok Ace, dan Prof Tjokorda Gde Raka Sukawati, adik Cok Ace.

Kunjungan dihari kampanye itu untuk memohon doa restu dari tokoh-tokoh penting Bali, sekaligus mendiskusikan isu-isu penting yang menyangkut masa depan Pulau Dewata.

Cok Ace yang juga mantan Bupati Gianyar dan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Konsul Kehormatan Malaysia untuk Bali, dan Ketua Forum Pengembangan Kawasan Strategis Ubud itu bahkan menitip beberapa pesan.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, De Gadjah dan Putu Agus Suradnyana duduk bercengkrama dengan Cok Ace dan keluarganya di Puri Saren Agung. Tidak hanya sekadar percakapan formal, pertemuan tersebut diisi dengan canda tawa yang hangat, seolah melambangkan jalinan kekeluargaan antara tuan rumah dan tamu.

Makan bersama di dapur Puri Saren Agung seakan menjadi simbol bahwa Paslon Mulia-PAS telah diterima secara hangat oleh keluarga besar Puri dan, lebih luas lagi, oleh masyarakat Bali yang mencintai tradisi dan budaya mereka.

Baca Juga:  Menjelang Galungan, Disperpa Badung Pastikan Daging Babi Aman Dikonsumsi

Pada kesempatan itu, Cok Ace memberikan pesan-pesan penting terkait dengan tugas berat menjaga Bali. Bagi Cok Ace, Bali bukan sekadar destinasi wisata, tetapi memiliki nafas kehidupan yang berpijak pada agama Hindu dan kebudayaan yang kaya.

Cok Ace menekankan pentingnya menjaga Bali dengan konsep Tri Hita Karana yang mengedepankan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).

“Budaya dan agama Hindu adalah nafas Bali. Menjaga budaya ini adalah tanggung jawab kita semua. Konsep Tri Hita Karana harus menjadi landasan dalam tata ruang dan pembangunan Bali agar kita tidak kehilangan identitas di tengah derasnya pengaruh global,” tegas Cok Ace.

Pesan tersebut mendapatkan apresiasi mendalam dari Putu Agus Suradnyana. Ia menyebutkan bahwa pesan Cok Ace akan menjadi pedoman bagi Paslon Mulia-PAS dalam merumuskan kebijakan dan program kerja mereka ke depan.

Menurut Putu Agus, tata ruang Bali ke depan harus berlandaskan pada konsep Tri Hita Karana agar Bali tetap terjaga keindahannya, baik dari segi fisik maupun nilai-nilai budayanya.

“Kami sangat menghormati masukan dari Cok Ace. Bagaimana kita bisa menjaga tata ruang Bali yang baik sambil tetap mempertahankan budaya warisan nenek moyang kita? Ini akan menjadi tantangan besar, tetapi dengan landasan yang kuat seperti Tri Hita Karana, kita yakin bisa melangkah ke depan dengan bijak,” kata Putu Agus Suradnyana.

Baca Juga:  Pencurian di Vila Canggu, Polsek Kuta Utara Belum Bisa Ungkap Pelaku Meski Ada Rekaman CCTV

Pertemuan di Puri Saren Agung Ubud juga menjadi momen bagi De Gadjah untuk merefleksikan makna persaudaraan yang tulus. Baginya, interaksi dengan Cok Ace dan keluarganya bukan sekadar pertemuan politis, melainkan sebuah ikatan batin antara generasi yang lebih tua dengan generasi yang lebih muda.

De Gadjah, yang dikenal sebagai calon gubernur milenial berusia 43 tahun, merasa bahwa tertawa lepas bersama Cok Ace adalah bukti dari jalinan persaudaraan yang tanpa drama.

“Itu artinya persaudaraan yang No Drama. Jadi bisa tertawa lepas,” ungkap De Gadjah sambil tersenyum

Salah satu isu penting yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah tantangan yang dihadapi Bali ke depan, terutama dalam mengatasi kemacetan dan masalah sosial yang timbul akibat perkembangan pariwisata yang pesat.

Ubud, sebagai salah satu destinasi wisata utama di Bali, seringkali dihadapkan pada masalah kemacetan yang meresahkan. Cok Ace memberikan pandangannya tentang bagaimana konsep Tri Hita Karana dapat diterapkan dalam solusi tata ruang untuk mengatasi masalah ini.

“Kemacetan di Ubud adalah salah satu masalah utama yang harus kita atasi. Namun, kita juga harus tetap menjaga nilai-nilai budaya yang ada. Jangan sampai perkembangan yang pesat justru merusak warisan budaya kita,” ujar Cok Ace, sambil menambahkan bahwa Bali harus mampu memfiltrasi pengaruh budaya luar agar tidak merusak nilai-nilai lokal yang telah diwariskan oleh nenek moyang.

Baca Juga:  Komisi III DPRD Badung Kunjungi 5 WP di Canggu, Ponda Wirawan Sebut Untuk Elaborasi Data dari WP dan Bapenda

Putu Agus Suradnyana sepakat dengan pandangan tersebut dan menyatakan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya. Menurutnya, menjaga Bali bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menjaga identitas dan budaya yang menjadi ciri khas pulau ini.

“Kami akan terus memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada pelestarian budaya, sambil tetap memberikan solusi bagi masalah-masalah pembangunan seperti kemacetan dan tata ruang. Bali harus tetap menjadi Bali yang kita cintai,” tegas Putu Agus.

Kunjungan Paslon Mulia-PAS ke Puri Saren Agung Ubud tidak hanya sekadar meminta doa restu, tetapi juga memperkuat komitmen mereka dalam menjaga Bali di masa depan. Dukungan dari tokoh seperti Cok Ace dan keluarganya, serta masukan-masukan yang diberikan, akan menjadi bekal berharga bagi Mulia-PAS dalam merumuskan kebijakan-kebijakan mereka ke depan.

Berlandaskan Tri Hita Karana, Paslon Mulia-PAS berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian budaya, serta memastikan Bali tetap menjadi pulau yang indah dan berbudaya di tengah tantangan globalisasi. (*)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Artikel terbaru