Probali.id, DENPASAR – Di tengah riuhnya Kasanga Festival di Lapangan Puputan Badung, Minggu (8/3), sosok perempuan sepuh tampak sibuk di balik panggung.
Meski rambutnya telah memutih, sorot matanya tajam memperhatikan setiap detail gerakan anak-anak asuhannya. Ialah A.A. Istri Rai Setyawati, seniman tari berusia 73 tahun yang membuktikan bahwa usia hanyalah angka jika bicara soal dedikasi pada tradisi.
Perempuan kelahiran Sayan, Gianyar, ini merupakan saksi hidup sekaligus pelaku sejarah perkembangan tari Bali di Denpasar. Sebagai kawan seangkatan maestro legendaris I Nyoman Suarsa atau yang akrab disapa Pak Yang Pung, Rai kini menjadi salah satu dari sedikit seniman generasinya yang masih aktif. Di saat rekan sejawatnya banyak yang telah berpulang, semangat Rai justru tetap menyala bak api yang tak kunjung padam.
”Semangat saya masih tetap berkobar untuk mengabdi di bidang seni. Saat ini, saya juga masih dipercaya menjadi pendidik di PAUD Saraswati 3,” ujar Rai dengan senyum hangat. Baginya, mengajar bukan sekadar memindahkan gerakan fisik, melainkan menanamkan napas budaya ke dalam jiwa generasi paling muda sejak dini.
Ketelatenan Rai teruji saat ia membimbing anak-anak usia prasekolah. Dengan penuh kesabaran, ia menuntun jemari mungil mereka, memperbaiki seledet (gerakan mata), hingga memastikan langkah kaki yang selaras dengan ritme gamelan. Selain di sekolah formal, pengabdiannya berlanjut di Sanggar Tari Rimantaka yang ia kelola bersama putrinya, tempat lahirnya bibit-bibit penari muda Kota Denpasar.
Menariknya, bagi Rai, menari dan mengajar adalah “obat” yang paling mujarab. Hal ini diakui oleh sang putra, Dedy Sutrisna Agung. Ia menyebut bahwa segala keluhan kesehatan khas lansia seolah menguap begitu saja saat sang ibu sudah berada di ruang latihan. “Jika diberi waktu untuk berkesenian, sakitnya seperti hilang. Keluhan orang tua terasa berkurang saat beliau melihat anak-anak menari,” ungkap Dedy.
Lebih dari sekadar hobi, seni tari adalah pilar yang menghidupi keluarganya. Rai berhasil membesarkan keempat anaknya dari hasil peluh berkesenian. Nilai kerja keras dan pengabdian itulah yang kini mengalir pada anak-anaknya, termasuk Dedy yang kini mengabdi di perangkat daerah Kota Denpasar sekaligus aktif dalam urusan adat di Desa Adat Penatih Puri.
Bagi masyarakat Denpasar, Rai Setyawati bukan sekadar guru tari, melainkan jembatan zaman. Ia menghubungkan kejayaan tari Bali masa lalu dengan dinamika generasi Z dan Alpha. Selama tubuhnya masih mampu bergerak, Rai berjanji tidak akan berhenti melangkah di atas lantai tari. Ia ingin memastikan bahwa tradisi Bali tetap tegak berdiri meski zaman terus bergulir.
Kisah Rai Setyawati adalah pengingat bahwa warisan budaya tak akan pernah lekang oleh waktu selama ada jiwa-jiwa tangguh yang rela mewariskan ilmunya. Dari tangan dinginnya, nyala tari Bali dipastikan akan tetap benderang, menembus sekat generasi, dan terus menari dalam lintasan sejarah yang panjang. (*)



