spot_img

Sampah Denpasar Tak Kunjung Tuntas, DPRD Soroti Lambannya Pengangkutan dan Ketimpangan Fasilitas

Probali.id, DENPASAR – Permasalahan sampah di Kota Denpasar kembali menuai sorotan keras. Anggota Komisi I DPRD, Yonathan Andre Baskoro, menilai penanganan sampah hingga kini belum menunjukkan langkah konkret yang mampu menjawab kompleksitas persoalan di lapangan.

Ia menegaskan, lambannya pengangkutan sampah telah menjadi titik lemah paling mendasar dalam sistem pengelolaan saat ini. Dampaknya, masyarakat yang kehabisan pilihan justru mengambil langkah instan dengan membakar sampah secara mandiri—praktik yang jelas melanggar aturan, namun terus terjadi.

“Ini bukan semata soal kesadaran warga. Ketika sampah tidak diangkut, masyarakat dipaksa mencari solusi sendiri. Ini kegagalan sistem,” tegas Yonathan saat ditemui di kawasan TPA Suwung, Senin 13 April 2026

Lebih jauh, ia mengungkap adanya paradoks dalam kebijakan pengelolaan sampah. Di satu sisi, pemerintah gencar mendorong pemilahan sampah dari rumah tangga. Namun di sisi lain, hasil pilahan tersebut kerap tidak diangkut secara konsisten.

Baca Juga:  Anggota DPR Nyoman Partai Ungkap Ratusan Mangrove Endemik Bali Mati di Kawasan Benoa: Apa Karena Pipa Pertamina Bocor?

“Kalau masyarakat sudah disiplin memilah, tapi akhirnya tetap menumpuk atau tercampur lagi, ini bukan hanya sia-sia, tapi merusak kepercayaan publik,” ujarnya.

Yonathan juga menyoroti minimnya armada pengangkutan yang dinilai tidak sebanding dengan volume sampah harian di Denpasar. Kondisi ini diperparah dengan belum meratanya fasilitas pengolahan seperti TPS 3R di tingkat desa dan kelurahan.

Tak hanya itu, distribusi sarana pendukung seperti tong sampah dan komposter dinilai belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Padahal, anggaran pengelolaan sampah Kota Denpasar pada 2026 mencapai kisaran Rp34–35 miliar.

“Pertanyaannya, dengan anggaran sebesar itu, kenapa fasilitas dasar belum merata? Ini harus dijawab secara transparan,” katanya.

Kondisi di lapangan bahkan mulai memicu gesekan. Yonathan menyinggung insiden di wilayah Sesetan, di mana terjadi kesalahpahaman antara warga dan petugas terkait jenis sampah yang diterima di TPS.

Baca Juga:  Usung Tagline "Kami Kelan, Kami Semua AdiCipta" Masyarakat Desa Adat Kelan Siap Pilih No 2 di Pilkada Serentak

“Jangan sampai petugas jadi pihak yang disalahkan di lapangan. Ini akibat kebijakan yang tidak tersosialisasi dengan jelas,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah kota perlu segera melakukan pembenahan menyeluruh, dimulai dari hal paling mendasar: memastikan jadwal pengangkutan yang pasti dan dapat diandalkan, serta menambah armada secara signifikan.

Di sisi lain, DPRD mendorong percepatan pembangunan TPS 3R di seluruh wilayah sebagai solusi antara sebelum sampah dibawa ke tempat pemrosesan akhir.

Untuk jangka panjang, Yonathan membuka opsi penggunaan teknologi pengolahan sampah modern seperti incinerator ramah lingkungan. Ia menilai, kota-kota maju seperti Singapura telah membuktikan bahwa sampah bisa dikelola secara efisien sekaligus bernilai ekonomis.

“Selama ini kita melihat sampah sebagai beban. Padahal jika dikelola serius, ini bisa menjadi sumber ekonomi baru,” ujarnya.

Baca Juga:  Bupati Buleleng Perkuat Layanan Kesehatan dengan Penambahan 6 Ruang Operasi di RSUD Buleleng

Di akhir pernyataannya, Yonathan mengingatkan agar semua pihak menghentikan budaya saling menyalahkan dan mulai berfokus pada langkah konkret yang bisa segera dirasakan masyarakat.

“Warga tidak butuh wacana. Mereka hanya ingin satu hal: sampahnya diangkut tepat waktu,” pungkasnya. (*)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Artikel terbaru