PROBALI, DENPASAR – Duta Kabupaten Badung sukses mencuri perhatian pada ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII 2026 melalui garapan Barong Landung bertajuk “Les Kelanguan” yang dipentaskan Sanggar Tari Rare Cili Kedonganan di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali (Art Center) Denpasar, Selasa (7/7).
Pertunjukan yang mengangkat tradisi khas Desa Adat Kedonganan, Mebuug Buugan, mendapat sambutan meriah dari penonton yang memadati arena pertunjukan.
Pementasan diawali tabuh petegak bebarongan berjudul “Jala Maasin” yang mengangkat filosofi air sebagai sumber kehidupan dan simbol keharmonisan alam. Garapan tersebut menjadi pembuka sebelum memasuki cerita utama “Les Kelanguan” yang mengisahkan perjalanan spiritual manusia melalui tradisi Mebuug Buugan yang digelar setiap Manis Nyepi di Desa Adat Kedonganan.
Dalam pertunjukan itu, permainan lumpur merah di pesisir dimaknai sebagai simbol sifat alami manusia yang masih dipenuhi kekotoran. Alur cerita kemudian berkembang menjadi perjalanan penyucian diri melalui tuntunan dharma hingga mencapai keseimbangan hidup yang digambarkan lewat kehadiran tokoh dukuh, Legong, Telek, dan Barong Landung sebagai manifestasi nilai-nilai spiritual.
Koordinator Nglawang Barong Landung Duta Kabupaten Badung, Agus Suanjaya, mengatakan garapan tersebut terinspirasi dari kawasan mangrove di pesisir timur Kedonganan sekaligus menjadi upaya memperkenalkan tradisi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
“Kami mengangkat tradisi Mebuug Buugan agar semakin dikenal. Harapannya desa adat maupun duta kabupaten lain juga terdorong mengangkat tradisi yang dimiliki daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Ia menjelaskan proses kreatif pementasan dimulai sejak 11 Februari 2026 dan melibatkan sekitar 108 seniman selama lebih dari empat bulan hingga akhirnya tampil mewakili Kabupaten Badung di PKB XLVIII.
Salah seorang penari, Agus Suwira, mengaku bangga dapat tampil dalam ajang seni budaya terbesar di Bali tersebut. Menurutnya, PKB menjadi ruang penting bagi seniman untuk terus berkarya sekaligus menjaga kelestarian budaya Bali.
Dalam pementasan itu, Agus Suwira memerankan tokoh kakek yang menjadi teladan bagi keluarga dengan menanamkan nilai-nilai budi pekerti dan pelestarian budaya kepada generasi muda. Sementara tokoh nenek yang diperankan Gung Gita menjadi simbol kasih sayang dan kebijaksanaan dalam keluarga.
Pementasan ditutup dengan tepuk tangan panjang dari penonton. Melalui “Les Kelanguan”, Duta Kabupaten Badung tidak hanya menampilkan pertunjukan artistik, tetapi juga memperkenalkan kekayaan tradisi Mebuug Buugan sekaligus menyampaikan pesan tentang pentingnya penyucian diri, menjaga harmoni dengan alam, dan melestarikan budaya Bali. (*)



