Probali.id, KLUNGKUNG – Kabupaten Klungkung kembali mencoba tampil beda dalam mempromosikan potensi daerah. Kali ini, pemerintah daerah menggagas pemanfaatan teknologi Virtual Reality (VR) dan Artificial Intelligence (AI) melalui pengembangan sistem virtual tour berbasis digital.
Langkah ini dibahas dalam audiensi yang dipimpin langsung oleh Bupati Klungkung, I Made Satria, didampingi Sekretaris Daerah Anak Agung Gede Lesmana, di Ruang Rapat Bupati, Rabu 22 April 2026.
Program ini diklaim akan menghadirkan pengalaman visual imersif bagi calon wisatawan dan investor. Melalui teknologi tersebut, publik dapat menjelajahi destinasi unggulan seperti Nusa Penida hingga kekayaan budaya Klungkung daratan secara daring dengan sensasi mendekati nyata.
“Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara konvensional. Dengan virtual tour berbasis AI, orang bisa merasakan langsung suasana destinasi sebelum datang. Ini strategi untuk memperkuat branding daerah,” ujar Satria.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul pertanyaan: apakah inovasi ini akan benar-benar berdampak, atau hanya menjadi proyek digital tanpa daya ungkit nyata?
Sejumlah pengamat menilai, teknologi VR dan AI memang mampu meningkatkan daya tarik promosi, tetapi bukan faktor penentu utama dalam keputusan wisatawan. Aksesibilitas, infrastruktur, kebersihan, hingga kualitas layanan di lapangan tetap menjadi penentu utama.
Selain itu, proyek berbasis teknologi tinggi seperti ini menuntut biaya pengembangan dan pemeliharaan yang tidak kecil. Tanpa perencanaan matang, pembaruan konten, serta strategi distribusi yang jelas, virtual tour berisiko hanya menjadi etalase digital yang sepi pengunjung.
Di sisi lain, tantangan juga datang dari aspek akses pengguna. Tidak semua calon wisatawan memiliki perangkat VR atau koneksi internet memadai, sehingga efektivitasnya bisa terbatas jika tidak disertai versi yang lebih ramah pengguna.
Meski demikian, langkah ini tetap menunjukkan ambisi Kabupaten Klungkung untuk beradaptasi dengan percepatan digitalisasi. Jika dieksekusi dengan serius dan terintegrasi dengan penguatan sektor riil, inovasi ini berpotensi menjadi pintu masuk baru bagi investasi dan pariwisata.
Sebaliknya, tanpa strategi yang menyentuh akar persoalan, teknologi secanggih apa pun berisiko hanya menjadi “pajangan modern” dalam upaya promosi daerah. (*)



