Probali.id, DENPASAR — Krisis sampah di Bali akhirnya dipaksa naik kelas dari sekadar keluhan tahunan menjadi agenda darurat lintas pemerintah. Bertempat di Kantor Gubernur Bali, Gubernur Wayan Koster bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara menandatangani kerja sama pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya, Senin 13 April 2026
Langkah ini diklaim sebagai “terobosan strategis”. Namun publik bertanya: apakah ini solusi nyata atau sekadar janji baru di tengah tumpukan masalah lama?
Bali saat ini menghadapi tekanan serius akibat keterbatasan daya tampung TPA Suwung yang kian kritis. Di lapangan, praktik pembakaran liar dan pembuangan sampah ke sungai bukan lagi insiden sporadis, melainkan gejala sistemik. Ironisnya, pulau yang dijual sebagai surga pariwisata dunia justru terjebak dalam citra “darurat sampah”.
Penolakan warga terhadap solusi sementara seperti sentra kompos mengungkap satu hal penting: persoalan sampah di Bali bukan semata teknis, tetapi juga sosial dan kultural. Ketika kepercayaan publik rendah, setiap kebijakan berisiko mentok sebelum berjalan.
Di tengah kebuntuan itu, PSEL Denpasar Raya diposisikan sebagai solusi permanen. Dengan teknologi berstandar Eropa, fasilitas ini dijanjikan mampu mengubah sampah menjadi energi listrik sekaligus menekan emisi dan limbah turunan. Proyek ini ditargetkan mulai dibangun pada pertengahan 2026.
Namun tantangan sesungguhnya belum dimulai. Fakta bahwa proyek ini sebelumnya sepi peminat investor menunjukkan adanya keraguan serius dari sisi bisnis dan risiko. Kini, dengan dukungan formal pemerintah daerah, proyek kembali didorong. Pertanyaannya: apakah jaminan politik cukup untuk menutup keraguan ekonomi?
Kesepakatan ini memang mengirim sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi bekerja sendiri-sendiri. Kolaborasi provinsi, Badung, dan Denpasar menjadi fondasi penting untuk sistem pengelolaan sampah terpadu. Tetapi sejarah proyek infrastruktur di Indonesia menunjukkan, penandatanganan sering kali lebih mudah daripada implementasi.
PSEL Denpasar Raya kini menjadi taruhan besar: bukan hanya untuk mengurai sampah, tetapi juga menyelamatkan wajah Bali di mata dunia. Jika berhasil, proyek ini bisa menjadi model nasional. Jika gagal, ia hanya akan menambah daftar panjang rencana ambisius yang karam di tengah jalan.
Di tengah gunungan sampah yang terus bertambah setiap hari, waktu tidak lagi menjadi sekutu. Bali tidak kekurangan wacana — yang dibutuhkan sekarang adalah eksekusi. (*)



