spot_img

G.A.J.A.H Tainsiat Metangi, Kedux : Rasanya Beban Satu Setengah Tahun Ilang

PROBALI, DENPASAR – Sebelum lampu panggung Denpasar Youth Festival (D’Youth Fest) 6.0 menyala pada Jumat, 11 Juni 2026 malam, Komang Gede Sentana Putra atau yang akrab disapa Kedux belum sempat memejamkan mata dan masih bersemangat bersama timnya. Kedux bersama seniman ogoh-ogoh asal Banjar Tainsiat, Denpasar, itu masih sibuk menyelesaikan sentuhan terakhir pada karya monumentalnya bertajuk G.A.J.A.H hingga sekitar pukul 16.00 WITA, hanya beberapa jam sebelum tampil di hadapan ribuan penonton.

Kerja tanpa henti itu akhirnya terbayar ketika ogoh-ogoh G.A.J.A.H sukses menjadi penampil pembuka festival. Di balik sorak penonton, Kedux mengaku merasakan kelegaan setelah memikul beban proses kreatif selama satu setengah tahun.

Baca Juga:  Sekda Buka Pemilihan Jegeg Bagus Badung Tahun 2025

“Senang sekali akhirnya Ogoh-Ogoh GAJAH bisa tampil di D’Youth Fest 6.0. Rasanya beban selama satu setengah tahun langsung hilang. Seperti sudah tidak punya utang lagi karena akhirnya karya ini bisa dipertunjukkan kepada masyarakat,” ujarnya usai pertunjukan.

Baginya, perjalanan menciptakan sebuah ogoh-ogoh bukan hanya soal membentuk rangka dan mempercantik tampilan. Ada waktu, tenaga, hingga emosi yang tercurah selama proses berlangsung. Bahkan, istilah begadang sudah tak lagi cukup menggambarkan perjuangan mereka.

“Sebenarnya bukan begadang lagi, memang tidak tidur sama sekali. Kami terus bekerja sampai selesai demi memberikan penampilan terbaik,” katanya.

Namun, G.A.J.A.H bukan sekadar karya yang memanjakan mata. Kedux menyelipkan keresahannya terhadap kerusakan hutan dan ancaman terhadap satwa liar di Kalimantan. Dari kegelisahan itu lahirlah akronim G.A.J.A.H, yakni Ganggu Alam, Jadi Ancaman Hidup, sebagai pengingat bahwa alam yang rusak pada akhirnya akan mengancam kehidupan manusia.

Baca Juga:  Hari Pertama HUT Mangupura ke-16, Suguhkan Janger Lansia, Tenant UMKM Hingga Festival Budaya

Ia juga ingin membuktikan bahwa ogoh-ogoh dapat tampil memikat tanpa harus dipenuhi atribut yang berlebihan. Menurutnya, kekuatan karya justru terletak pada karakter, gerak, dan ekspresi yang mampu menghidupkan sosok yang ditampilkan.

“Tahun ini kami mencoba menjawab pertanyaan teman-teman bahwa tanpa banyak atribut pun sebuah ogoh-ogoh tetap bisa tampil hidup dengan gerakan yang halus. Tahun depan tentu akan kami maksimalkan lagi,” pungkasnya. (*)

ARTIKEL TERKAIT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Artikel terbaru